Tentang Penerima
Cheiriel adalah seniman dan aktivis budaya asal Morotai yang berdedikasi menghidupkan kembali tradisi seni pertunjukan pulau terdepan Indonesia ini. Ia menggabungkan seni tradisional dengan pendekatan festival kontemporer.
Pengalaman
- Penari dan koreografer tradisional Morotai sejak 2008
- Pendiri Sanggar Seni Morotai 2014
- Penyelenggara event budaya tingkat kabupaten
- Narasumber workshop tari Maluku Utara
Tentang Kegiatan
Festival seni dan budaya selama 3 hari di Pulau Morotai yang menampilkan pertunjukan tradisional, pameran kerajinan, dan workshop untuk masyarakat lokal dan wisatawan.
Pulau Morotai memiliki warisan budaya yang kaya namun kurang dikenal luas. Festival Budaya Pulau Morotai adalah upaya untuk memperkenalkan dan merayakan kebudayaan Morotai kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus membangun kebanggaan masyarakat lokal terhadap tradisi mereka.
Festival ini menampilkan tari-tarian tradisional, musik, pameran kerajinan tangan, lomba kuliner tradisional, dan workshop. Kegiatan berlangsung di ruang publik pantai dan lapangan desa, melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Latar Belakang
Sebagai pulau terdepan, Morotai menghadapi tantangan dalam pelestarian budaya. Generasi muda lebih tertarik dengan budaya populer. Festival ini menjadi wadah untuk menghidupkan kembali kebanggaan akan tradisi lokal.
Tujuan & Sasaran
Tujuan
- Menyelenggarakan festival budaya tahunan pertama di Morotai
- Menampilkan 10+ grup seni tradisional
- Melibatkan 50+ pengrajin lokal dalam pameran
- Menarik 3.000 pengunjung dari dalam dan luar pulau
Sasaran
- 1 festival 3 hari terselenggara
- 10+ pertunjukan tradisional
- 50+ stan pameran kerajinan
- 3.000 pengunjung
Hasil Kegiatan
Festival Budaya Morotai 2022
Festival 3 hari dengan 15 pertunjukan, 60 stan pameran, dan 5 workshop
Dokumenter Festival Morotai
Film dokumenter 30 menit tentang festival dan budaya Morotai
Lihat DetailKatalog Festival
Katalog 80 halaman berisi profil seniman dan pengrajin peserta
Dampak & Capaian
Penerima Manfaat
"Festival ini membuktikan bahwa Morotai bukan hanya sejarah Perang Dunia II, tapi juga punya budaya yang hidup dan indah."